You could put your verification ID in a comment Radio Reggae Online
latest articles

Senin, 07 Oktober 2013

Kisah Klasik Tentang Keberadaan Musik Reggae



Reggae? Pernah gak sih kalian mempertanyakan apa sih sebenarnya arti dari kata “reggae” itu sendiri. Begini guys, menurut buku yang gak sengaja gw baca, bahwa reggae itu berasal dari kata “ragged”, kata tersebut mempunyai arti dari suatu gerakan yang menghentakkan badan layaknya penggemar reggae sedang menikmati alunan musik tersebut. Tahun 1968 Musik Reggae ini terlahir, setelah surutnya penikmat musik Ska, RockSteady, dan DUB disaat penduduk Jamaika mengalami tekanan social ekonomi.


Music Reggae mempunyai tempo yang lebih lambat dibandingkan dengan musik Ska dan RockSteady, dengan dentum bas dan rhythm guitar lebih menonjol, memberikan nuansa irama music reggae ini, terdengar mengasikkan. Iramanya yang dinamis membuat pendengarnya bergoyang santai, sehingga mereka ikut menghayati ditiap lirik-liriknya. Kehadiran musik reggae ini, sebagai bentuk penyampaian pesan yang dituangkan melalui lirik lagu yang terkait dengan tradisi religi Rastafari dan permasalahan social politik humanistik maupun universal. Jadi dapat dikatakan bahwa musik Reggae juga merupakan sebuah musik bagi para pemberontak.
Perkembangan musik yang satu ini memang sangat pesat. Musik Reggae pun akhirnya mengalami perkembangan menjadi Roots Reggae dan Dancehall Reggae yang terjadi pada akhir tahun 1970. Nama Roots Reggae sendiri diberikan oleh para Rastafarian, yang berarti sebuah musik spiritual yang diperuntukan bagi “Jah” yang berarti tuhan bagi para Rastafarian.
Para pecinta reggae identik dengan atribut yang mewakili style kaum Rastafarian diantaranya, rambut gimbal, bendera dengan kombinasi warna merah, kuning, dan hijau. Ada kebanyakan orang yang merasa kurang nyaman melihat kaum yang berambut gimbal dengan segala atribut yang mempunyai kombinasi warna merah, kuning, dan hijau, namun hal itu merupakan ungkapan bahwa mereka menggemari aliran music reggae.
Dilihat dari karateristiknya, pernah ada gak di benak kalian muncul sebuah pertanyaan, kenapa reggae identik dengan warna merah-kuning-hijau???  Ketiga warna yang identik itu adalah warna merah, kuning/emas, dan hijau, yang melambangkan warna bendera dari Ethiopia. Warna-warna ini adalah lambang gerakan Rastafari, dan kesetiaan kaumnya terhadap negaranya sendiri atau sebagai ungkapan rasa nasionalisme tinggi terhadap negaranya. Warna  Merah melambangkan darah para martir, kuning/emas melambangkan kekayaan dan kemakmuran yang ditawarkan Afrika, sementara hijau melambangkan tetumbuhan Afrika . Menurut sejumlah pakar Ethiopia menyatakan, warna merah, kuning/emas, dan hijau dilambangkan sebagai sabuk Perawan Maria, yaitu pelangi. Sedangkan dari 7 unsur warna pelangi, diantaranya terdapat tiga warna yang sangat identik dengan kaum rastafari.
Sebagian orang mempunyai pandangan negative tentang kebiasaan para penikmat reggae. Oleh karena itu, aliran reggae ini, pernah menjadi buah bibir sebagian kecil masyarakat di dunia, mereka menganggap music ini sangat berbahaya bila ditinjau dari segi lirik lagu mapun lifestyle yang melekat pada penggemarnya. Penggunaan cannabis alias ganja oleh para musisi Reggae banyak diikuti oleh para pendengar dari musik ini, karena efek yang ditimbulkan oleh ganja memang sangat cocok dengan irama musik Reggae. Bahkan tidak sedikit yang beranggapan bahwa penggunaan cannabis atau ganja merupakan salah satu ritual yang wajib dilakukan oleh para Rastafarian.
Namun bagi sebagian besar orang, reggae yang seutuhnya dapat memberikan pengaruh yang positif. Selain lirik lagu reggae berisi pesan perdamaian, juga memberikan dorongan untuk membuat hidup lebih baik. “Your life is worth much more than gold” itulah potongan lirik dari lagu Jammin’ yang mengartikan bahwa hidup kamu lebih bersinar dan mahal daripada emas. Lirik itulah yang selalu membangkitkan semangat untuk orang-orang yang tertindas. Pesan yang selalu Bob marley nyanyikan dalam Redemption Song dan yang selalu membekas dihati para penggemar Bob Marley adalah “Emancipate Your Selves From Mental Slavery” (emansipasikan dirimu dari mental budak).
Awal mula dari semua ini berasal dari sang legendaris Bob Marley yang terlahir dengan nama Robert Nesta Marley pada tanggal 6 Februari 1945, di sebuah desa di Saint Anna, Jamaica, Bob Marley merupakan Sang legenda Reggae yang tidak akan ada habisnya dibicarakan. Ia merupakan salah satu musisi yang sangat mendunia. Selain berprofesi sebagai penyanyi, Bob Marley juga sangat piawai dalam memainkan gitar dan menjadi seorang penulis lagu yang handal.
Pada tahun 1963 Bob Marley bersama Bunny Livingston, Peter McIntosh, Junior Braithwaite, Beverly Kelso dan Cherry Smith membuat sebuah band yang bernama The Teenagers. Nama The Teenagers sendiri tidak bertahan lama dan kemudian berubah menjadi The Wailing Rudeboys yang kemudian disempurnakan menjadi The Wailers. Perjalanan Marley sendiri dilaluinya layaknya musisi, hingga kesuksesannya menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi penggemarnya.
Namun Marley tidak lama merasakan kejayaannya tersebut. Pada bulan Juli 1977 Marley divonis menderita penyakit kanker, dan penyakit tersebut pun mulai menjalar ke beberapa bagian vital tubuhnya seperti otak dan hati yang membuatnya harus banyak beristirahat. Pada tanggal 11 Mei 1981 sang legenda Reggae ini pun menghembuskan nafas terakhirnya dengan meninggalkan tiga belas anak. Walaupun telah meninggal, nama Bob Marley seakan tidak pernah lenyap dari dunia musik, khususnya musik Reggae. Bahkan musik Reggae pun semakin diterima dunia. Mungkin ini lah salah satu cara yang harus dilakukan oleh sang dewa Reggae untuk tetap menghidupkan musik Reggae.

Music Reggae bukanlah music yang dimainkan oleh orang-orang yang memakai ganja, tetapi music reggae adalah music tentang jiwa pemberontak yang menginginkan kebebasan, bukanlah kebebasan tanpa batas maupun penindasan.

NB : “Martir” artinya, Seseorang yang harus mampu menjaga jarak dengan zaman. Ikut arus tapi tidak terbawa arus. Cerdas dan tangguh dalam menyikapi masalah dan mampu mempertanggungjawabkan prinsip hidup Katolik dalam masyarakat.
Read more

Gaya Hidup Rastafarian Sebagai Bentuk Eksistensi Subkultur Reggae

pada masa remaja bentuk aktualisasi diri dianggap sangatlah penting karena
merupakan media yang mampu menunjukkan
eksistensi diri. Di sinilah dapat di lihat mengenai suatu fenomena bahwa remaja cenderung mengadopsi  hal - hal apa yang mereka anggap menarik dan banyak digemari oleh masyarakat baik diluar kelompoknya maupun masyarakatnya sendiri. Media massa dan industri adalah media yang paling dominan dalam mengkontruksi apa saja kebutuhan remaja, caranya dengan mengkampanyekan dan mempromosikan sebuah gambaran atau trend yang sedang  populer.
Usia remaja merupakan saat dimana daya cipta tengah berkembang.
Daya cipta yang banyak terlihat dalam bentuk kegiatan yang digemari kebanyakan tidak semuanya ditentukan oleh potensi dan bakat yang ada dalam diri remaja sendiri, namun seringkali daya cipta tersebut merupakan bentuk dari peniruan terhadap sesuatu atau hal - hal yang serba baru yang sedang berlangsung disekitarnya. Salah satu bentuk adopsi yang sering dilakukan oleh para remaja adalah dalam bentuk
Lifestyle yang tercermin dalam bentuk suatu komunitas dengan kegemaran yang sama pada suatu hal salah satunya adalah kegemaran akan musik.
Komunitas sendiri menurut Victor Turner dalam buku masyarakat bebas struktur, komunitas dilihat sebagai cara relasi sosial antar pribadi yang konkret, yang langsung(Winangun, 1990:46). Bentuk komunitas yang ada dalam antara lain adalah komunitas musik Reggae yang bisa juga disebut sebagai subkultur Reggae.
Subkultur Reggae terbentuk sebagai kelompok atau komunitas yang memiliki kesamaan suatu hal, yaitu dalam hal musik dan juga lifestyle yang tercermin melalui atribut dan attitude yang melekat pada diri mereka.
Subkultur Reggae dapat dengan mudah kita tandai, kebanyakan dari mereka seringkali
menggunakan atribut pakaian dan gaya rambut yang mencolok.
Gaya penampilan dalam Subkultur Reggae kebanyakan meniru gaya dari musisi legendaris Jamaika yaitu Robert Nesta Marley yang biasa dikenal dengan nama Bob Marley yang merupakan seorang Rastafarian sejati.
Hampir dari seluruh apa yang terkait dengan nama Bob Marley selalu menjadi acuan bagi komunitas musik Reggae, mulai dari gaya rambut dreadlock
,
kecintaan terhadap musik Reggae (aliran musik yang berasal dari Jamaika), hingga
kebiasaan menghisap ganja walaupun tidak semua Rastafarian
menghisap ganja, sehingga seringkali subkultur Reggae diidentikan sebagai Rasta atau
Rastafarian.
Namun kebanyakan dari mereka hanya menirukan apa yang tersurat saja tanpa memperdulikan sesuatu yang tersirat dibalik gaya dan kebiasaan yang dititukan. Hal ini tak lepas dari pengaruh media sebagai suatu industri budaya yang kebanykan hanya menyoroti musisi ini dari sisi penampi lan luarnya saja. Sehingga seringkali para remaja yang merupakan pendukung terbesar dari komunitas ini hanya sekedar menirukan apa yang terlihat tanpa memperhatikan arti dari kesemuanya itu. Maka sebagai konsekuensinya muncul stereotipe bahwa Subkultur Reggae adalah komunitas yang hanya melakukan tindakan negatif seperti menghisap ganja dan memandang mereka yang ada didalamnya sebagai
gembel karena terlihat dari rambut gimbalnya. Setelah menyimak dinamika Subkultur
Reggae, khususnya yang terkait dengan gaya hidup  Rastafarian dari komunitas ini, maka permasalahan penelitian dapat di jabarkan ke dalam pertanyaan tentang bagaimana  keseluruhan dari subkultur reggae terkait dengan sejarah, gaya hidup dan juga  kesehariannya dalam masyarakat
Apa itu reggae?
Reggae
like its earlier counterpart calypso, quickly became a medium of social
commentary as part of the African cultural tradition transported to the
Caribbean by the slaves. It still serves as a social safety valve through which
oppressed peoples express their
discontent. Like the music of Africa,
Reggae
is for dancing, but the lyrics elicit a variety of responsive emotions-- crying, rage,
and rejoicing. As Bob Marley sings in "Them Belly Full (But We Hungry)"( Barrett, 1997:1).
[Reggae
,seperti halnya music
-
musik yang sebelumnya, adalah semacam
komentar sosial tentang budaya Afrika yang dibawa ke Karibia melalui budak
-
budak Afrika. Reggae masih dipakai sebagai cara mereka mengekspresikan
posisi sosialnya atau kekurangpuasan terhadap situasinya. Seperti musik dari
Afrika, Reggae memang music untuk berjoget, akan tetapi liriknya mengundang
respon emosional, seperti tangisan, kemarahan, dan suka cita. Seperti yang Bob
Marley nyanyikan dalam lagu berjudul “Them Belly Full (But We Hungry)].
Reggae mulai dikenal di Indonesia pada era 80 an dimana pada saat itu masuk
seiring dengan sedang digalakannya industri pariwisata saat itu. Pada saat itu Reggae
masuk melalui wisatawan asing yang datang dan mengenalkan musik Reggae di daerah pariwisata seperti Bali dan Yogyakarta yang pada akhirnya juga merambah daerah lain seperti Jakarta dan Surabaya, dan kemudian juga di ikuti dengan munculnya lagu-lagu dan penyanyi yang membawakan musik beraliran Reggae yang mengidentikan suasana pantainya, seperti Melky Goeslaw yang menciptakan lagu berjudul ‘Dansa Reggae’ dan juga Tony Q dan Rastafara yang mulai membawakan musik Reggae. Perkembangan Reggae di Indoensia sempat redup saat itu dan muncul kembali pada era 2000an di mulai dengan munculnya musik ska yang kemudian diikuti oleh musik Reggae.
Ras Muhamad  dalam wawancara nya di salah satu stasiun televisi nasional menyebutkan bahwa dalam musik
Reggae instrumen yang penting adalah bas yang “patah-patah” dan menunjukan
ritme lagu itu sendiri,ketukan drum yang disebut dengan istilah “one drop”dan juga
kocokan gitarnya yang dimulai dari bawah keatas, sehingga berbunyi “nyet-nyet” atau
“ceket-ceket” menurut istilah kawan-kawan di surabaya.
Komunitas Reggae merupakan komunitas para pecinta musik Reggae.
Di antara para pecinta musik Reggae ada yang tergabung dalam suatu
komunitas yang telah terbentuk dan ada pula yang cukup sekedar nongkrong
bareng di suatu lokasi tempat berkumpulnya salah satu band Reggae lokal ataupun di suatu distro yang menyediakan segala hal yang berbau dengan Reggae dan
Rastafarian
dan juga lokasi gig-gig Reggae baik regular ataupun insidentil.
Di beberapa kota seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Malang dapat di jumpai lokasi dan komunitas Reggae.
Tidak diketahui secara pasti dari jumlah komunitas Reggae di setiap kota, karena
memang tidak pernah ada pendataan, kalaupun ada hanya sebatas anggota  band dan
fans base yang juga tidak terdokumentasi dalam hal jumlah, ada juga struktur komunitas Reggae yang sudah membentuk suatu organisasi.
Komunitas reggae tidak tampil layaknya komunitas musik lain, namun loyalitas komunitas ini terlihat dalam sebuah event musik reggae yang selalu penuh dengan penggemarnya, bahkan terkadang komunitas musik lainnya pun ikut datang untuk menikmati musik yang menurut sebagian besar penggemarnya merupakan musik damai.
Hal itu terbukti pada setiap event reggae
tidak pernah terjadi tawuran antar penggemarnya. Komunitas reggae terlihat besar dalam
Scene-scene underground atau Scene-scene indie(Independent).
Hal itu dikarenakan sangat musik reggae selalu menggunakan label recording skala lokal dan jarang menggunakan label-label besar berskala nasional dalam proses rekaman lagunya sehingga penyebaran lagu-lagu dari musisi reggae lokal menggunakan media lisan atau
dari orang satu ke orang lainnya.
Komunitas Reggae di Surabaya pada awalnya tidak memiliki suatu organisasi
khusus. Pada tahun 2006-2007 para musisi Reggae lokal seringkali mengadakan
event musik Reggae
yang berlokasi di Food Tunnel AJBS yang terletak di Jl. Ratna yang pada
saat itu  merupakan salah satu lokasi yang sering di gunakan sebagai
event musik suatu komunitas namun pada saat ini lokasi tersebut telah menjadi sebuah restoran, event Reggae terakhir yang berlokasi d sana adalah “Jamaican Night” yang juga merupakan awal mula perkenalan peneliti dengan salah satu informan meskipun sebelumnya pernah
dikenalkan oleh kawan dari informan namun pada saat itu peneliti belum sempat
berbincang-bincang dengan informan. Informan tersebut adalah Dimas dimana peneliti
berkenalan dengan cara bertukar minuman beralkohol yang dibawa peneliti dengan
lintingan ganja yang dibawa oleh Dimas. Lokasi lainnya berada di Pusat Studi
Kebudayaan dan Bahasa Prancis (CCCL) yang sering bekerjasama dengan musisi
-musisi lokal termasuk juga musisi Reggae
Surabaya seperti Rasta Revolution, Nyiur Melambai dan juga Heavy Monster yang mengusung musik ska-Reggae.
Beberapa event Reggae yang mengundang musisi Reggae ibukota seperti Steven And Coconut Trees kebanyakan  berlokasi di Balai Pemuda Surabaya. Pada tahun 2011 mulai terbentuk Surabaya Reggae Indonesia (SRI) yang bermarkas di distro Redline Sidoarjo, pada saat ini SRI mempunyai event Reggae
yang mengundang musisi Reggae secara regular di Taman Remaja pada hari Kamis minggu ke tiga.
Yogyakarta adalah kota dengan intensitas event Reggae yang cukup sering di  kampus dan juga cafe. Yogyakarta juga banyak terdapat distro-distro yang menyediakan
segala aksessoris yang berbau Reggae.
Cafe yang sampai saat ini masih melaksanakan event Reggae regular adalah cafe bintang yang berlokasi di Jl. Sosrowijayan, event Reggae di cafe ini dilaksanakan pada hari Rabu. Cafe lainnya adalah radikal cafe yang berlokasi di Jl. Gejayan, cafe ini menyuguhkan musik Reggae secara regular pada hari Jum’at. Selain cafe ada juga distro dan juga markas musisi Reggae lokal atau seringkali disebut dengan istilah
basecamp, antara lain distro Djatimaika yang terletak di sudut Jl. Malioboro, studio tempat berkumpulnya komunitas Reggae dan juga merupakan basecamp
Marapu Band Reggae lokal Yogyakarta adalah Gong Studio yang terletak di daerah Nologaten, Yogyakarta, ada juga basecamp dari Burgertime Band yang berlokasi
dekat dengan kampus ISI yaitu di daerah Bantul.
Kondisi kota Malang hampir sama dengan Yogyakarta dengan derasnya arus
pendatang baik wisatawan
maupun pelajar. Sehingga memungkinkan tumbuhnya
berbagai komunitas. Lokasi-lokasi yang sering menjadi tongkrongan komunitas Reggae
Malang adalah cafe Jagrak Tengah yang berlokasi di perempatan Klojen, cafe tersebut mengadakan event regular khusus musik Reggae
pada hari Sabtu,
namun pada tahun ini event tersebut sudah digantikan dengan event live musik, studio dan terkadang juga di emperan jalan seperti di sekitaran Stasiun Blimbing. Hampir sama dengan Yogyakarta, kampus-kampus di Malang juga sering mengadakan gig-gig Reggae walaupun tidak secara regular.
Gig Reggae terbesar yang dilaksanakan di Malang adalah Reggae Festival pada tahun 2010 yang dilaksanakan di Taman Krida Budaya pada tanggal 9 0ktober 2010 mulai pukul 7 malam hingga pukul 3 pagi, dan diisi oleh musisi Reggae lokal dan juga musisi dari kota-kota lain termasuk Jakarta seperti Steven And Coconut Trees dan juga Ras Muhamad.
Rastafarian dan Reggae
Rastafarian
sebenarnya merupakan sebuah ajaran agama Kristen yang berlaku di kalangan petani dan buruh yang ada di Jamaika terutama pada masyarakat kulit hitam (Negro).
Nama Rastafarian sendiri diambil dari nama kaisar Ethiopia sebelum ia di beri gelar kekaisaran yaitu Ras Tafari Makkonen yang juga dipercaya oleh para Rastafarian
sebagai penjelmaan Yesus yang turun untuk kedua kalinya ke bumi untuk memimpin
bangsa-bangsa kulit hitam untuk kembali ke tanah nenek moyangnya Ethiopia yang juga di yakini sebagai surga yang ada dibumi. Bukan hanya itu saja Rastafarian
juga dapat dikatakan sebagai sebuah gerakan perlawanan terhadap bentuk perbudakan yang terjadi oleh kaum kulit putih (Eropa) terhadap masyarakat kulit hitam sebagai implementasi dari politik apartheid. Pada masa awal kemunculan ajaran
Rastafarian(1930) masyarakat kulit hitam selalu berada pada tatanan sosial yang terendah dan masyarakat kulit putih sebagai penghuni kelas teratas dalam masyarakat.
Akibatnya banyak terjadi penindasan dan perbudakan terhadap kaum kulit hitam, dan akhirnya munculah
Rastafarian
sebagai
gerakan yang menolak sistem yang
diberlakukan oleh masyarakat kulit putih.
Di negara kita (Indonesia) unsur-unsur
Rastafarian masuk melalui media musik, yaitu musik Reggae
yang bagi para Rastafarian dianggap sebagai musik spriritual.
Salah satu musisinya adalah Bob Marley, yang merupakan aktor penting dalam hal persebaran Rastafarian bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Hal itu terkait dengan pengaruh adanya media komunikasi seperti televisi yang juga menunjang proses persebarannya.
Sehingga secara tidak langsung media komunikasi membentuk sebuah budaya yang
kemudian menjadi sebuah komoditas masyarakat terutama pada kalangan remaja yang
cenderung konsumtif dan memandang suatu bentuk eksistensi diri dari kemasan luar atau penampilan.Di Indonesia, Reggae
hampir selalu diidentikkan dengan rasta. Padahal,
Reggae dan rasta sesungguhnya adalah dua hal yang berbeda. "Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of life," ujar Ras Muhamad, pemusik Reggae
yang sudah 12 tahun menekuni dunia Reggae di New York dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik hingar-bingar dan
kegembiraan yang dibawa Reggae, ada stigma bahwa Reggae selau identik dengan
konsumsi ganja yang melekat pada para penggemar musik tersebut.
Dan stigma tersebut  turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri. "Di sini, penggemar musik Reggae, atau sering salah kaprah disebut Rastafarian, didentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya, tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta sesungguhnya justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib,
dan memiliki prinsip serta tujuan hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya
menolak minum alkohol, makan daging, dan bahkan mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran
rastafari," seperti yang dikatakan Ras Muhamad.
Ras mengungkapkan, tidak semua penggemar Reggae adalah penganut rasta, dan
sebaliknya, tidak semua penganut rasta harus menyenangi lagu Reggae.
Reggae diidentikkan dengan Rastafarian karena Bob Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia adalah seorang penganut Rasta. (Kompas , 9 Juli 2006 ).
Hal itu bertolak belakang dengan apa yang sering di katakan kawan-kawan yang
baru menikmati Reggae, terkadang mereka menyebut musik Reggae
adalah rasta, bahkan rambut gimbal pun di sebur sebagai rasta.
Reggae sebagai subkultur dalam masyarakat
Sebagaimana di ketahui bahwa kebudayaan dapat dikatakan suatu kebudayaan
ketika memiliki tiga wujud, yang lebih dikenal dengan istilah 3 wujud kebudayaan.
Tiga wujud kebudayaan itu adalah ide, perilaku, dan artefak atau budaya fisik. Maka, serupa dengan J.J Honigmann yang dalam buku pelajaran antropologinya yang berjudul the wrold of man (1959: hal 11-12) membedakan adanya tiga “gejala kebudayaan”, yaitu: (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifacts (koentjaraningrat, 1990:186).
Kelompok subkultur, disebut Haviland (1985) sebagai variasi subbudaya dalam suatu masyarakat yang berfungsi menurut standar perilaku yang khas. Gaya, sikap dan cara bertindak praktis lain juga menjadi tanda penting bagi anggota-anggota subkultur. hal itu biasanya bertujuan untuk menetang kehidupan sehari-hari dengan maksud ingin berbeda dari yang lain dan membangun serta menunjukan eksistensi keberadaan subkultur mereka. Makna resistensi dalam subkultur mempunyai arah yang berbeda dengan gerakan politik. Berbagai bentuk pembangkangan terhadap kemapanan dilakukan terutama atas standar-standar penampilandan perilaku yang esensinya terletak pada ide budaya. Sedangkan bentuk seni yang sering dipakai untuk menuangkan ide dan pikiran itu adalah musik (Andrianto, dikutip dari http://www.digilib.ui.ac.id , diakses tanggal ei 2012).
Reggae berawal dari sebuah aliran musik yang memiliki massa sendiri, dalam perkembangannnya Reggae akhirnya berkembang sebagai suatu kebudayaan dalam
kebudayaan atau disebut dengan istilah subkultur. Hal itu terjadi sebabagi akibat dari
persinggungan Reggae dengan rastafarian yang merupakan bentuk kebudayaan besar
yang beasal dari kaum petani dan buruh d jamaika, dari kultur itulah Reggae
memiliki bentuk kebudayaan yang disebut sebagai tiga wujud budaya. Ide pada subkultur Reggae ide awal mereka hampir sama dengan subkultur-subklutur lain yang lebih besar atau lebih dikenal sebelumnya seperti Punk dan Juga hippies, ide awal mereka adalah ide perlawanan, dimana pada
Reggae sendiri adalah perlawaana terhadap politik apartheid  atau penggolongan kelas sosial berdasarkan warna kulit. Perilaku, wujud perilaku yang mencolok dari Reggae
sendiri adalah dalam penggunaan gan ja dan juga penggunaan
simbol-simbol seperti dreadlock atau gimbal dan juga vegetarian. Wujud kebudayaan
yang paling mudah dilihat atau bentuk fisik dari Reggae
sendiri adalah rambut gimbal yang di negara asalnya jamaika merupakan bentuk perlawaanan dan musik Reggae itu sendiri sebagai aliran musik, dan juga warna merah kuning hijaunya.
Dalam gaya hidup subkultur Reggae sendiri terlihat beberapa simbol - simbol yang
dominan dalam kehidupan kesehariannya untuk berkomunikasi dengan menggunakan
tanda dan symbol dalam lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik,
postur tubuh, perhiasan, pakaian, ritus. Simbol-simbol dalam gaya hidup tersebut bermula dari kedekatan akar musik Reggae
gerakan rastafarian yang dekat dengan kehidupan afrika. “Afrika merupakan gagasan sentral kaum rastafarian hidup dekat dan menjadi bagian dari alam dianggap sebagai sifat Afrika. Pendekatan afrika terhadap‘hidup dekat alam’ ini terlihat dalam simbolisasi
dreadlock(rambut gimbal), ganja, makanan, upacara keagamaan, dan segala aspek kehidupan. Dalam masyarakat ketika berbicara tentang Reggae
maka akan langsung mengarah kepada rasta, hal itu pula yang
dirasakan peneliti ketika masih duduk dibangku sekolah. Peneliti menganggap bahwa
Reggae sebagai popular culture adalah rasta , sedangkan ketika berbicara rasta maka yang akan terbesit adalah warna merah kuning hijau, rambut gimbal, anak pantai dan
kebiasaan mengkon sumsi ganja dalam kesehariannya. Anggapan-anggapan dan stigma tentang
Reggae seringkali muncul ketika peneliti berbicara tentang
Reggae terhadap keluarga peneliti dan juga kawan-kawan penggemar
Reggae yang seringkali menyebut merah kuning hijau, ganja dan
juga dreadlock adalah rasta.
Simbol-simbol Rastafarian dalam Reggae Manusia juga berkomunikasi dengan menggunakan tanda dan symbol dalam lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik, postur tubuh, perhiasan, pakaian, ritus, agama, kekerab
atan, nasionalitas, tata ruang, pemilikan barang dan banyak lagi lainnya”(Saefuiddin, 2 5:289-280).
Dalam gaya hidup subkultur Reggae
sendiri terlihat beberapa simbol-simbol yang dominan dalam kehidupan kesehariannya. Dreadlock atau gimbal dalam istilah indonesia sebenar nya merupakan bentuk rambut asli kulit hitam jika di biarkan panjang, namun pada rastafarian hal itu dikaitkan dengan kedekatan dengan alam terutama afrika yang dianggap sebagai tanah perjanjian.
Rambut dreadlock pun lantas menjadi titik perhatian dalam fenomena
Reggae.
Bahkan sekarang dreadlock sering di identikan dengan musik
Reggae sehingga orang sering salah kaprah dengan mengganggap bahwa para musisi
Reggae-lah yang melahirkan gaya rambut bersilang-belit (lock) itu (bob marley:spirit of freedom,).
Rambut gimbal mulai populer ketika musisi asala jamaika bob marley mulai dikenal dunia, sehingga musik Reggae selalu di identikan dengan rambut gimbal. Hal itu menyebabkan banyak penggemar musik Reggae beramai-ramai menggimbal rambut mereka, ada yang menggunakan rambut asli dengan memanjangkan terlebih dahulu ada juga yang menggunakan rambut tambahan.
Dalam gerakan rastafarian penggunaan ganja memiliki makna tersendiri, mereka menganggap bahwa ganja di ciptakan oleh tuhan bukan tanpa tujuan, melainkan untuk mendewasakan manusia. Ganja sendiri pertama kali di temukan di cina pada tahun 2737 sm.
Mereka menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, sama halnya dengan pakaian dan obat-obatan dan terapi penyembuhan seperti rematik, sakit perut, beri-beri hingga malaria, Ganja juga di gunakan untuk upacara ke agamaan. Tanaman ganja memiliki sejarah dalam penggunaan ritualnya sebagai obat untuk mendorong trance dan tanaman ini di terlihat dalam beberapa kultus farmakologis di seluruh dunia.(Baskara,2008:86).
Penggunakan ganja dalam ajaran rastafarian adalah sebagai sarana meditasi, bukan
sebagai narkotika atau demi kesenangan semata dan hal ini tidak menjadi kewajiban
dalam gerakan rastafarian, anggapan inilah yang jarang diketahui oleh para penggemar
musik Reggae yang sebgaian merupakan pengguna ganja, beberapa dari mereka hanya tahu bahwa
Reggae adalah rasta dan rasta harus berganja.
Ganja memiliki beberapa nama dalam berbagai negara namun nama lain ganja yang
cukup popular adalah mariyuana dimana
nama ini berasal dari bahasa mexiko dan juga
spanyol, namun juga popular di daerah amerika.
“The term "marijuana" is a exican-Spanish name and has become popular in
the United States. In Jamaica, the term "ganja" is the most popular and represents
a finer quality of the weed.”(Barret, 1997:8 )
“Nama marijuana berasal dari mexico dan spanyol dan menjadi popular di
amerika. Di jamaika, nama ganja lebih popular dan merupakan sebutan untuk
bibit dengan kualitas yang lebih baik.”(Barret, 1997:83)
Pada suatu gig Reggae pasti akan sering terlihat warna merah kuning(emas) dan
juga hijau sebagai hiasan atau dalam poster-poster musisi Reggae. Para penggemar
Reggae kebanyakan menyebutnya sebagai warna rasta, sebagian dari mereka hanya tahu
merah, kuning, dan hijau. Kebanyakan dari penggemar musik Reggae tidak tahu bahwa
warna kuning adalah pengganti warna emas.
“...Gemerlap kalau didalam disco,tetapi dancehall(salah satu jenis music Reggae)
tak seperti itu penuh hiasan merah, kuning, hijau...”(Ras uhamad-Run dat)
Penggalan lirik dari lagu ras muhamad juga menunjukan bahwa warna merah,
kuning, hijau dekat dengan Reggae. Warna merah, kuning, hijau sendiri sebenarnya
merupakan warna dari bendera ethiopia yang merupakan negara asal Ras tafari makonen
yang merupakan kaisar ethiopia yang juga di anggap sebagai mesias(Juru selamat) yang
turun kedua kalinya sebagai manusia.
“The red signifies the blood of martyrs of Jamaican history...The black
represents the color of the Africans whose descendants form 98 percent of all
Jamaicans. The green is the green of Jamaican vegetation and of the hope of
victory over oppression.”(Barret, 1997:9 )
“Warna merah menandakan darah dari pejuang dalam sejarah jamaika...warna
hitam melambangkan warna kulit orang afrika yang menghuni jamaika dimana
kurang lebih 98 persen warga jamaika adalah keturunan afrika. Warna hijau
adalah hijaunya atau suburnya vegetasi jamaika dan juga lambang dari harapan
lepas dari penindasan”
Warna emas dalam bendera jamaika dan juga ethiopia yang digambarkan dengan
warna kuning merupaka lambang dari sinar matahari yang menyinari rakyat seperti
Jah(jehovah) yang selalu memberikan sinar bagi rakyat jamaika dan ethiopia.
Warna-warna merah, kuning(emas), dan juga hijau tidak hanya menghiasi dindingdinding dari venue suatu gig. Warna-warna tersebut seringkali menajdi pakaian wajib
dari pengunjung gig Reggae untuk menunjukan eksistensi mereka sebagai penggemar
Reggae sejati dan ada juga yang menyebut diri mereka rasta. Banyak makna dari
kesemua warna yang dekat dengan subkultur Reggae dan gerekan rastafari ini, namun
secara garis besar makna-makna dari warna tersebut masih dalam satu garis lurus. Warna
merah menandakan darah dari pejuang dalam sejarah jamaika...warna hitam
melambangkan warna kulit orang afrika yang menghuni jamaika dimana kurang lebih 98
persen warga jamaika adalah keturunan afrika. Warna hijau adalah hijaunya atau suburnya vegetasi jamaika dan juga lambang dari harapan lepas dari penindasan. Selain
pakain bergambar bob marley dan ganja,warna-warna itu muncul mulai dari kaos,
aksesoris, hingga kerpus. Sehingga banyak para penggemar Reggae yang juga
memanfaatkan warna ini untuk bertahan hidup dengan menjual hal-hal yang berbau
merah, kuning, hijau, karena sperti di jelaskan diatas bahwa penggemar Reggae yang
berambut dreadlock seringkali bekerja di luar sektor formal seperti berdagang, salah
satunya adalah berdagang hal-hal dengan perpaduan warna tersebut dan juga hal yang
berbau bob marley dan juga ganja.
Penutup
Masyarakat merupakan suatu bentuk budaya mainstream atau kebudayaan dominan
yang didalam nya juga terdapat sub-subbudaya selain budaya dominan tersebut. Maka
dalam setiap keseharian masyarakat selalu memiliki gaya hidup yang berbeda-beda
dalam setiap kelompok atau komunitas dan juga subkultur. keberbedaan atas gaya hidup
bukan selalu bertujuan sebagai bentuk gerakan penentangan atas suatu kondisi sosial,
melainkan untuk menunjukan eksistensi dan identitas kelompok atau subkultur dalam
masyarakat yang merupakan oposisi biner dari subkultur terkait dengan konsep budaya
dominan dan subbudaya. Bentuk identitas subkultur dalam gaya hidup tercermin dalam
perilaku, gaya, dan juga seni, salah satunya adalah musik. Remaja merupakan sebagian
besar pengikut suatu komunitas ataupun subkultur terutama subkultur yang berhkaitan
dengan musik dan juga gaya. Subkultur yang di ikuti oleh remaja adalah subkultur
Reggae. Dalam kesehariannya subkultur Reggae memiliki gaya hidup yang cenderung
menyimpang dari masyarakat kebanyakan. Menyimpangnya gaya hidup subkultur
Reggae bukan tanpa maksud, yaitu untuk menunjukan eksistensi dari subkultur mereka.
Gaya hidup musisi dan penggemar Reggae dalam subkultur Reggae tidak begitu saja
dijalani oleh mereka. Pada awalnya Reggae adalah sebuah jenis musik yang berasal dari
daerah karibia terutama jamaika. Musik Reggae bermula dari musik mento yang
kemudian berkembang menjadi ska dan terus berkembang hingga saat ini menjadi
Reggae dan juga sub-sub genre dari Reggae. Musik Reggae pada awalnya hanya musikmusik kampung yang hanya diputar dan dimainkan di daerah-daerah kingston jamaika.
Kemunculan Bob Marley yang merupakan agen dalam mempopulerkan Reggae
keseluruh dunia walaupun sebelum Bob Marley banyak musisi Reggae yang juga sudah
mulai rekaman. Kepopuleran Bob Marley sebagai musisi Reggae juga turut
mempopulernya Rastafarian yang juga di jalani oleh ikon Reggae itu sendiri. Rastafarian
dipopulerkan oleh Bob Marley melalui lagu-lagunya yang kebanyakan berisi tentang
gerakan Rastafarian dan pujian-pujian untuk Jah atau mesias bagi orang kulit hitam
Jamaika. Subkultur Reggae berkembang pesat pada kota dimana kota tersebut merupakan
kota tujuan wisata terutama tujuan wisata bagi wisatawan asing, mengingat bahwa
wisatawan asing juga merupakan agen yang membawa musik Reggae dan juga gaya
hidupnya walaupun peran tersebut tidak sebesar peran dari Bob Marley. Besarnya
subkultur ini dapat dilihat dengan semakin besar pula komunitas Reggae yang sebenarnya
itulah subkultur Reggae itu sendiri. Kebanyakan dari anggota yang baru mengenal
subkultur Reggae, menyebut mereka adalah rasta(Rastafarian) karena mereka sudah
menggimbal rambutnya, mencintai Reggae dan menghisap ganja layaknya keseharian
dari bob marley sebagai panutan mereka yang merupakan Rastafarian dan juga musisi
Reggae. Hal itu berbeda pada mereka yang mapan pada subkultur Reggae karena mereka
akan berasaha untuk mengenal lebih dalam lagi tentang subkultur Reggae, dan tidak lagi
melihat Reggae dari permukaannya saja. Cara pandang Reggae dari tampilan dan
permukaan saja itulah yang memunculkan stigma bahwa penggemar Reggae selau identik
dengan rasta dan juga dicap sebagai pengganja
Read more

Buku NEGERI PELANGI - Ras Muhamad

“Sepanjang pengamatan saya, ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia seorang penyanyi menulis bukunya sendiri, dan diluncurkan dalam konferensi pers di depan komunitasnya,” ― Bens Leo.
 Catatan Perjalanan Duta Reggae Indonesia ke Ethiopia

Setelah merilis beberapa album, penyanyi yang sekaligus icon reggae Ras Muhamad kini meluncurkan sebuah buku yang berjudul ‘Negeri Pelangi’. Buku ini merupakan catatan Duta Reggae IndonesiaRas Muhamadke Ethiopia, negera yang terletak di belahan benua Afrika yang merupakan cikal bakal lahirnya musik reggae.
Di mata orang kebanyakan atau bahkan oleh komunitas reggae di Indonesia sendiri menganggap bahwa reggae hanya sebatas musik pantai dengan panorama pohon kelapa dan musik yang tak terlalu memikirkan masa depan. Begitu pula anggapan yang melekat kepada penggemar musik bergenre reggae yang acap kali dikonotasikan dengan narkoba dan huru-hara. Padahal jika dicerna isi/lirik lagu yang dibawakan oleh para pendahalu musisi reggae, pergerakan reggae ini sarat bercerita tentang kebangsaan, nasionalisme, keberagaman, pluralisme, dan toleransi.
Melalui karya perdananya dalam bentuk tulisan ―Negeri Pelangi―, Ras Muhamad menjelaskan dan meluruskan anggapan-anggapan tersebut secara detail. Buku yang terilhami dari sebuah perjalanannya ke negera yang memiliki ibu kota Addis Ababa ini juga mengupas benang merah ikatan filosofis dan hubungan sejarah antara Etiopia di Afrika dengan Jamaika di Karibia. Begitu juga dengan semangat Asia-Afrika yang merupakan napas Dasa Sila Bandung yang digagas oleh Bung Karno.
Lebih lanjut, buku ‘Negeri Pelangi’ ini mengkaji lebih dalam sosok-sosok penting seperti Bob Marley, Marcus Garvey, Kaisar Haile Selassie dan Pergerakan Rastafari, negara Jamaika, sejarah, reggae dan banyak lagi kandungan penting yang harus diketahui oleh para pecinta reggae, seperti kandungan yang terdapat dalam lirik lagu-lagu Bob Marley.
Bisa dikatakan buku ini adalah sebuah dokumentasi “perjalanan spiritual” Ras Muhamad sebagai Duta Reggae Indonesia ke Ethiopia. Sebuah negara di belahan benua Afrika yang tidak banyak orang mengenalnya secara luas. Bahkan masih melekat dalam benak kita, bila mendengar Etiopia maka yang terbayang adalah kesedihan, kelaparan, kebodohan, penyakit, dan kemiskinan. Persepsi tersebut masih hidup hingga sekarang karena pada masa ‘Perang Dingin’ lalu dan Ethiopia ketika itu dikuasai rezim komunis memang mengalami hal negatif seperti itu. Tapi kini setelah pemerintahan demokratis berkuasa, negeri ini mengalami kemajuan yang luar biasa berkat sikap ‘visoner’ yang dimiliki almarhum Perdana Menteri Meles Zenawi yang berkuasa sejak tahun 1994 hingga wafatnya tanggal 21 Agustus 2012.
13619900211523508921 
Buku setebal 204 halaman ini disertai dengan foto-foto dokumentasi selama perjalanan Ras Muhamad menyusuri tempat-tempat bersejarah serta momen-momen penting selama di Ethiopia. Kemasan menarik lainnya adalah CD lagu-lagu pilihan terbaik pergerakan Rastafari oleh Asia-Afrika soundsystem yang selaras dengan tema buku ini. Tentunya, terdapat pula single terbaru bertajuk “Negeri Pelangi” berkolaborasi dengan musisi reggae legendaris Indonesia, Toni Q.
1362015606165767219 
Ras Muhammad secara resmi meluncurkan buku ‘Negeri Pelangi’ pada 17 Februari 2013 di Jakarta dihadiri oleh berbagai tamu undangan, pengamat musik, penerbit, para musisi reggae yang sekaligus mendukung acara launching party, awak media, dan para fans –pecinta reggae.
13619870361876812396
Read more