pada masa remaja bentuk aktualisasi
diri dianggap sangatlah penting karena
merupakan media yang mampu
menunjukkan
eksistensi diri. Di sinilah dapat di
lihat mengenai suatu fenomena bahwa remaja cenderung mengadopsi hal - hal apa yang mereka anggap menarik dan
banyak digemari oleh masyarakat baik diluar kelompoknya maupun masyarakatnya
sendiri. Media massa dan industri adalah media yang paling dominan dalam
mengkontruksi apa saja kebutuhan remaja, caranya dengan mengkampanyekan dan
mempromosikan sebuah gambaran atau trend yang sedang populer.
Usia remaja merupakan saat dimana
daya cipta tengah berkembang.
Daya cipta yang banyak terlihat
dalam bentuk kegiatan yang digemari kebanyakan tidak semuanya ditentukan oleh
potensi dan bakat yang ada dalam diri remaja sendiri, namun seringkali daya
cipta tersebut merupakan bentuk dari peniruan terhadap sesuatu atau hal - hal
yang serba baru yang sedang berlangsung disekitarnya. Salah satu bentuk adopsi
yang sering dilakukan oleh para remaja adalah dalam bentuk
Lifestyle yang tercermin dalam
bentuk suatu komunitas dengan kegemaran yang sama pada suatu hal salah satunya
adalah kegemaran akan musik.
Komunitas sendiri menurut Victor
Turner dalam buku masyarakat bebas struktur, komunitas dilihat sebagai cara relasi
sosial antar pribadi yang konkret, yang langsung(Winangun, 1990:46). Bentuk
komunitas yang ada dalam antara lain adalah komunitas musik Reggae yang bisa
juga disebut sebagai subkultur Reggae.
Subkultur Reggae terbentuk sebagai kelompok
atau komunitas yang memiliki kesamaan suatu hal, yaitu dalam hal musik dan juga
lifestyle yang tercermin melalui atribut dan attitude yang melekat pada diri
mereka.
Subkultur Reggae dapat dengan mudah
kita tandai, kebanyakan dari mereka seringkali
menggunakan atribut pakaian dan gaya
rambut yang mencolok.
Gaya penampilan dalam Subkultur
Reggae kebanyakan meniru gaya dari musisi legendaris Jamaika yaitu Robert Nesta
Marley yang biasa dikenal dengan nama Bob Marley yang merupakan seorang Rastafarian
sejati.
Hampir dari seluruh apa yang terkait
dengan nama Bob Marley selalu menjadi acuan bagi komunitas musik Reggae, mulai
dari gaya rambut dreadlock
,
kecintaan terhadap musik Reggae
(aliran musik yang berasal dari Jamaika), hingga
kebiasaan menghisap ganja walaupun
tidak semua Rastafarian
menghisap ganja, sehingga seringkali
subkultur Reggae diidentikan sebagai Rasta atau
Rastafarian.
Namun kebanyakan dari mereka hanya
menirukan apa yang tersurat saja tanpa memperdulikan sesuatu yang tersirat
dibalik gaya dan kebiasaan yang dititukan. Hal ini tak lepas dari pengaruh
media sebagai suatu industri budaya yang kebanykan hanya menyoroti musisi ini
dari sisi penampi lan luarnya saja. Sehingga seringkali para remaja yang
merupakan pendukung terbesar dari komunitas ini hanya sekedar menirukan apa
yang terlihat tanpa memperhatikan arti dari kesemuanya itu. Maka sebagai
konsekuensinya muncul stereotipe bahwa Subkultur Reggae adalah komunitas yang
hanya melakukan tindakan negatif seperti menghisap ganja dan memandang mereka
yang ada didalamnya sebagai
gembel karena terlihat dari rambut
gimbalnya. Setelah menyimak dinamika Subkultur
Reggae, khususnya yang terkait
dengan gaya hidup Rastafarian dari
komunitas ini, maka permasalahan penelitian dapat di jabarkan ke dalam
pertanyaan tentang bagaimana keseluruhan
dari subkultur reggae terkait dengan sejarah, gaya hidup dan juga kesehariannya dalam masyarakat
Apa itu reggae?
Reggae
like its earlier counterpart
calypso, quickly became a medium of social
commentary as part of the African
cultural tradition transported to the
Caribbean by the slaves. It still
serves as a social safety valve through which
oppressed peoples express their
discontent. Like the music of
Africa,
Reggae
is for dancing, but the lyrics
elicit a variety of responsive emotions-- crying, rage,
and rejoicing. As Bob Marley sings
in "Them Belly Full (But We Hungry)"( Barrett, 1997:1).
[Reggae
,seperti halnya music
-
musik yang sebelumnya, adalah
semacam
komentar sosial tentang budaya
Afrika yang dibawa ke Karibia melalui budak
-
budak Afrika. Reggae masih dipakai
sebagai cara mereka mengekspresikan
posisi sosialnya atau kekurangpuasan
terhadap situasinya. Seperti musik dari
Afrika, Reggae memang music untuk
berjoget, akan tetapi liriknya mengundang
respon emosional, seperti tangisan,
kemarahan, dan suka cita. Seperti yang Bob
Marley nyanyikan dalam lagu berjudul
“Them Belly Full (But We Hungry)].
Reggae mulai dikenal di Indonesia
pada era 80 an dimana pada saat itu masuk
seiring dengan sedang digalakannya
industri pariwisata saat itu. Pada saat itu Reggae
masuk melalui wisatawan asing yang
datang dan mengenalkan musik Reggae di daerah pariwisata seperti Bali dan
Yogyakarta yang pada akhirnya juga merambah daerah lain seperti Jakarta dan
Surabaya, dan kemudian juga di ikuti dengan munculnya lagu-lagu dan penyanyi
yang membawakan musik beraliran Reggae yang mengidentikan suasana pantainya,
seperti Melky Goeslaw yang menciptakan lagu berjudul ‘Dansa Reggae’ dan juga
Tony Q dan Rastafara yang mulai membawakan musik Reggae. Perkembangan Reggae di
Indoensia sempat redup saat itu dan muncul kembali pada era 2000an di mulai
dengan munculnya musik ska yang kemudian diikuti oleh musik Reggae.
Ras Muhamad dalam wawancara nya di salah satu stasiun
televisi nasional menyebutkan bahwa dalam musik
Reggae instrumen yang penting adalah
bas yang “patah-patah” dan menunjukan
ritme lagu itu sendiri,ketukan drum
yang disebut dengan istilah “one drop”dan juga
kocokan gitarnya yang dimulai dari
bawah keatas, sehingga berbunyi “nyet-nyet” atau
“ceket-ceket” menurut istilah
kawan-kawan di surabaya.
Komunitas Reggae merupakan komunitas
para pecinta musik Reggae.
Di antara para pecinta musik Reggae ada
yang tergabung dalam suatu
komunitas yang telah terbentuk dan
ada pula yang cukup sekedar nongkrong
bareng di suatu lokasi tempat
berkumpulnya salah satu band Reggae lokal ataupun di suatu distro yang
menyediakan segala hal yang berbau dengan Reggae dan
Rastafarian
dan juga lokasi gig-gig Reggae baik
regular ataupun insidentil.
Di beberapa kota seperti Surabaya,
Yogyakarta, dan Malang dapat di jumpai lokasi dan komunitas Reggae.
Tidak diketahui secara pasti dari
jumlah komunitas Reggae di setiap kota, karena
memang tidak pernah ada pendataan,
kalaupun ada hanya sebatas anggota band dan
fans base yang juga tidak
terdokumentasi dalam hal jumlah, ada juga struktur komunitas Reggae yang sudah
membentuk suatu organisasi.
Komunitas reggae tidak tampil
layaknya komunitas musik lain, namun loyalitas komunitas ini terlihat dalam
sebuah event musik reggae yang selalu penuh dengan penggemarnya, bahkan
terkadang komunitas musik lainnya pun ikut datang untuk menikmati musik yang
menurut sebagian besar penggemarnya merupakan musik damai.
Hal itu terbukti pada setiap event
reggae
tidak pernah terjadi tawuran antar
penggemarnya. Komunitas reggae terlihat besar dalam
Scene-scene underground atau
Scene-scene indie(Independent).
Hal itu dikarenakan sangat musik
reggae selalu menggunakan label recording skala lokal dan jarang menggunakan
label-label besar berskala nasional dalam proses rekaman lagunya sehingga
penyebaran lagu-lagu dari musisi reggae lokal menggunakan media lisan atau
dari orang satu ke orang lainnya.
Komunitas Reggae di Surabaya pada
awalnya tidak memiliki suatu organisasi
khusus. Pada tahun 2006-2007 para
musisi Reggae lokal seringkali mengadakan
event musik Reggae
yang berlokasi di Food Tunnel AJBS
yang terletak di Jl. Ratna yang pada
saat itu merupakan salah satu lokasi yang sering di
gunakan sebagai
event musik suatu komunitas namun
pada saat ini lokasi tersebut telah menjadi sebuah restoran, event Reggae terakhir
yang berlokasi d sana adalah “Jamaican Night” yang juga merupakan awal mula
perkenalan peneliti dengan salah satu informan meskipun sebelumnya pernah
dikenalkan oleh kawan dari informan
namun pada saat itu peneliti belum sempat
berbincang-bincang dengan informan.
Informan tersebut adalah Dimas dimana peneliti
berkenalan dengan cara bertukar
minuman beralkohol yang dibawa peneliti dengan
lintingan ganja yang dibawa oleh
Dimas. Lokasi lainnya berada di Pusat Studi
Kebudayaan dan Bahasa Prancis (CCCL)
yang sering bekerjasama dengan musisi
-musisi lokal termasuk juga musisi
Reggae
Surabaya seperti Rasta Revolution,
Nyiur Melambai dan juga Heavy Monster yang mengusung musik ska-Reggae.
Beberapa event Reggae yang
mengundang musisi Reggae ibukota seperti Steven And Coconut Trees kebanyakan berlokasi di Balai Pemuda Surabaya. Pada tahun
2011 mulai terbentuk Surabaya Reggae Indonesia (SRI) yang bermarkas di distro
Redline Sidoarjo, pada saat ini SRI mempunyai event Reggae
yang mengundang musisi Reggae secara
regular di Taman Remaja pada hari Kamis minggu ke tiga.
Yogyakarta adalah kota dengan
intensitas event Reggae yang cukup sering di kampus dan juga cafe. Yogyakarta juga banyak
terdapat distro-distro yang menyediakan
segala aksessoris yang berbau
Reggae.
Cafe yang sampai saat ini masih
melaksanakan event Reggae regular adalah cafe bintang yang berlokasi di Jl.
Sosrowijayan, event Reggae di cafe ini dilaksanakan pada hari Rabu. Cafe
lainnya adalah radikal cafe yang berlokasi di Jl. Gejayan, cafe ini menyuguhkan
musik Reggae secara regular pada hari Jum’at. Selain cafe ada juga distro dan
juga markas musisi Reggae lokal atau seringkali disebut dengan istilah
basecamp, antara lain distro
Djatimaika yang terletak di sudut Jl. Malioboro, studio tempat berkumpulnya
komunitas Reggae dan juga merupakan basecamp
Marapu Band Reggae lokal Yogyakarta
adalah Gong Studio yang terletak di daerah Nologaten, Yogyakarta, ada juga
basecamp dari Burgertime Band yang berlokasi
dekat dengan kampus ISI yaitu di
daerah Bantul.
Kondisi kota Malang hampir sama
dengan Yogyakarta dengan derasnya arus
pendatang baik wisatawan
maupun pelajar. Sehingga
memungkinkan tumbuhnya
berbagai komunitas. Lokasi-lokasi
yang sering menjadi tongkrongan komunitas Reggae
Malang adalah cafe Jagrak Tengah
yang berlokasi di perempatan Klojen, cafe tersebut mengadakan event regular
khusus musik Reggae
pada hari
Sabtu,
namun pada
tahun ini event tersebut sudah digantikan dengan event live musik, studio dan
terkadang juga di emperan jalan seperti di sekitaran Stasiun Blimbing. Hampir
sama dengan Yogyakarta, kampus-kampus di Malang juga sering mengadakan gig-gig Reggae
walaupun tidak secara regular.
Gig Reggae terbesar
yang dilaksanakan di Malang adalah Reggae Festival pada tahun 2010 yang
dilaksanakan di Taman Krida Budaya pada tanggal 9 0ktober 2010 mulai pukul 7
malam hingga pukul 3 pagi, dan diisi oleh musisi Reggae lokal dan juga musisi
dari kota-kota lain termasuk Jakarta seperti Steven And Coconut Trees dan juga
Ras Muhamad.
Rastafarian
dan Reggae
Rastafarian
sebenarnya merupakan sebuah ajaran
agama Kristen yang berlaku di kalangan petani dan buruh yang ada di Jamaika
terutama pada masyarakat kulit hitam (Negro).
Nama Rastafarian sendiri diambil
dari nama kaisar Ethiopia sebelum ia di beri gelar kekaisaran yaitu Ras Tafari
Makkonen yang juga dipercaya oleh para Rastafarian
sebagai penjelmaan Yesus yang turun
untuk kedua kalinya ke bumi untuk memimpin
bangsa-bangsa kulit hitam untuk
kembali ke tanah nenek moyangnya Ethiopia yang juga di yakini sebagai surga
yang ada dibumi. Bukan hanya itu saja Rastafarian
juga dapat dikatakan sebagai sebuah
gerakan perlawanan terhadap bentuk perbudakan yang terjadi oleh kaum kulit
putih (Eropa) terhadap masyarakat kulit hitam sebagai implementasi dari politik
apartheid. Pada masa awal kemunculan ajaran
Rastafarian(1930) masyarakat kulit
hitam selalu berada pada tatanan sosial yang terendah dan masyarakat kulit
putih sebagai penghuni kelas teratas dalam masyarakat.
Akibatnya banyak terjadi penindasan
dan perbudakan terhadap kaum kulit hitam, dan akhirnya munculah
Rastafarian
sebagai
gerakan yang menolak sistem yang
diberlakukan oleh masyarakat kulit
putih.
Di negara kita (Indonesia)
unsur-unsur
Rastafarian masuk melalui media
musik, yaitu musik Reggae
yang bagi para Rastafarian dianggap
sebagai musik spriritual.
Salah satu musisinya adalah Bob
Marley, yang merupakan aktor penting dalam hal persebaran Rastafarian bukan
hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Hal itu terkait dengan pengaruh adanya
media komunikasi seperti televisi yang juga menunjang proses persebarannya.
Sehingga secara tidak langsung media
komunikasi membentuk sebuah budaya yang
kemudian menjadi sebuah komoditas
masyarakat terutama pada kalangan remaja yang
cenderung konsumtif dan memandang
suatu bentuk eksistensi diri dari kemasan luar atau penampilan.Di Indonesia,
Reggae
hampir selalu diidentikkan dengan
rasta. Padahal,
Reggae dan rasta sesungguhnya adalah
dua hal yang berbeda. "Reggae adalah nama genre musik, sedangkan rasta
atau singkatan dari rastafari adalah sebuah pilihan jalan hidup, way of
life," ujar Ras Muhamad, pemusik Reggae
yang sudah 12 tahun menekuni dunia
Reggae di New York dan penganut ajaran filosofi rasta. Repotnya, di balik hingar-bingar
dan
kegembiraan yang dibawa Reggae, ada
stigma bahwa Reggae selau identik dengan
konsumsi ganja yang melekat pada
para penggemar musik tersebut.
Dan stigma tersebut turut melekat pada filosofi rasta itu sendiri.
"Di sini, penggemar musik Reggae, atau sering salah kaprah disebut
Rastafarian, didentikkan dengan pengisap ganja dan bergaya hidup semaunya,
tanpa tujuan," ungkap Ras yang bernama asli Muhamad Egar ini.
Padahal, filosofi rasta sesungguhnya
justru mengajarkan seseorang hidup bersih, tertib,
dan memiliki prinsip serta tujuan
hidup yang jelas. Penganut rasta yang sesungguhnya
menolak minum alkohol, makan daging,
dan bahkan mengisap rokok. "Para anggota The Wailers (band asli Bob
Marley) tidak ada yang merokok. Merokok menyalahi ajaran
rastafari," seperti yang
dikatakan Ras Muhamad.
Ras mengungkapkan, tidak semua
penggemar Reggae adalah penganut rasta, dan
sebaliknya, tidak semua penganut
rasta harus menyenangi lagu Reggae.
Reggae diidentikkan dengan
Rastafarian karena Bob Marley—pembawa genre musik tersebut ke dunia adalah
seorang penganut Rasta. (Kompas , 9 Juli 2006 ).
Hal itu bertolak belakang dengan apa
yang sering di katakan kawan-kawan yang
baru menikmati Reggae, terkadang
mereka menyebut musik Reggae
adalah rasta, bahkan rambut gimbal
pun di sebur sebagai rasta.
Reggae sebagai subkultur dalam
masyarakat
Sebagaimana di ketahui bahwa
kebudayaan dapat dikatakan suatu kebudayaan
ketika memiliki tiga wujud, yang
lebih dikenal dengan istilah 3 wujud kebudayaan.
Tiga wujud
kebudayaan itu adalah ide, perilaku, dan artefak atau budaya fisik. Maka,
serupa dengan J.J Honigmann yang dalam buku pelajaran antropologinya yang
berjudul the wrold of man (1959: hal 11-12) membedakan adanya tiga “gejala
kebudayaan”, yaitu: (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifacts
(koentjaraningrat, 1990:186).
Kelompok
subkultur, disebut Haviland (1985) sebagai variasi subbudaya dalam suatu
masyarakat yang berfungsi menurut standar perilaku yang khas. Gaya, sikap dan
cara bertindak praktis lain juga menjadi tanda penting bagi anggota-anggota
subkultur. hal itu biasanya bertujuan untuk menetang kehidupan sehari-hari
dengan maksud ingin berbeda dari yang lain dan membangun serta menunjukan
eksistensi keberadaan subkultur mereka. Makna resistensi dalam subkultur
mempunyai arah yang berbeda dengan gerakan politik. Berbagai bentuk
pembangkangan terhadap kemapanan dilakukan terutama atas standar-standar
penampilandan perilaku yang esensinya terletak pada ide budaya. Sedangkan
bentuk seni yang sering dipakai untuk menuangkan ide dan pikiran itu adalah
musik (Andrianto, dikutip dari http://www.digilib.ui.ac.id , diakses tanggal ei 2012).
Reggae berawal dari sebuah aliran
musik yang memiliki massa sendiri, dalam perkembangannnya Reggae akhirnya
berkembang sebagai suatu kebudayaan dalam
kebudayaan atau disebut dengan
istilah subkultur. Hal itu terjadi sebabagi akibat dari
persinggungan Reggae dengan
rastafarian yang merupakan bentuk kebudayaan besar
yang beasal dari kaum petani dan
buruh d jamaika, dari kultur itulah Reggae
memiliki bentuk kebudayaan yang
disebut sebagai tiga wujud budaya. Ide pada subkultur Reggae ide awal mereka hampir
sama dengan subkultur-subklutur lain yang lebih besar atau lebih dikenal
sebelumnya seperti Punk dan Juga hippies, ide awal mereka adalah ide
perlawanan, dimana pada
Reggae sendiri adalah perlawaana
terhadap politik apartheid atau
penggolongan kelas sosial berdasarkan warna kulit. Perilaku, wujud perilaku
yang mencolok dari Reggae
sendiri adalah dalam penggunaan gan
ja dan juga penggunaan
simbol-simbol seperti dreadlock atau
gimbal dan juga vegetarian. Wujud kebudayaan
yang paling mudah dilihat atau
bentuk fisik dari Reggae
sendiri adalah rambut gimbal yang di
negara asalnya jamaika merupakan bentuk perlawaanan dan musik Reggae itu
sendiri sebagai aliran musik, dan juga warna merah kuning hijaunya.
Dalam gaya hidup subkultur Reggae sendiri
terlihat beberapa simbol - simbol yang
dominan dalam kehidupan
kesehariannya untuk berkomunikasi dengan menggunakan
tanda dan symbol dalam lukisan,
tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik,
postur tubuh, perhiasan, pakaian,
ritus. Simbol-simbol dalam gaya hidup tersebut bermula dari kedekatan akar
musik Reggae
gerakan rastafarian yang dekat
dengan kehidupan afrika. “Afrika merupakan gagasan sentral kaum rastafarian
hidup dekat dan menjadi bagian dari alam dianggap sebagai sifat Afrika.
Pendekatan afrika terhadap‘hidup dekat alam’ ini terlihat dalam simbolisasi
dreadlock(rambut gimbal), ganja,
makanan, upacara keagamaan, dan segala aspek kehidupan. Dalam masyarakat ketika
berbicara tentang Reggae
maka akan langsung mengarah kepada
rasta, hal itu pula yang
dirasakan peneliti ketika masih
duduk dibangku sekolah. Peneliti menganggap bahwa
Reggae sebagai popular culture
adalah rasta , sedangkan ketika berbicara rasta maka yang akan terbesit adalah
warna merah kuning hijau, rambut gimbal, anak pantai dan
kebiasaan mengkon sumsi ganja dalam
kesehariannya. Anggapan-anggapan dan stigma tentang
Reggae seringkali muncul ketika
peneliti berbicara tentang
Reggae terhadap keluarga peneliti
dan juga kawan-kawan penggemar
Reggae yang seringkali menyebut
merah kuning hijau, ganja dan
juga dreadlock adalah rasta.
Simbol-simbol Rastafarian dalam
Reggae Manusia juga berkomunikasi dengan menggunakan tanda dan symbol dalam
lukisan, tarian, musik, arsitektur, mimik wajah, gerak-gerik, postur tubuh,
perhiasan, pakaian, ritus, agama, kekerab
atan, nasionalitas, tata ruang,
pemilikan barang dan banyak lagi lainnya”(Saefuiddin, 2 5:289-280).
Dalam gaya hidup subkultur Reggae
sendiri terlihat beberapa
simbol-simbol yang dominan dalam kehidupan kesehariannya. Dreadlock atau gimbal
dalam istilah indonesia sebenar nya merupakan bentuk rambut asli kulit hitam
jika di biarkan panjang, namun pada rastafarian hal itu dikaitkan dengan
kedekatan dengan alam terutama afrika yang dianggap sebagai tanah perjanjian.
Rambut dreadlock pun lantas menjadi
titik perhatian dalam fenomena
Reggae.
Bahkan sekarang dreadlock sering di
identikan dengan musik
Reggae sehingga orang sering salah
kaprah dengan mengganggap bahwa para musisi
Reggae-lah yang
melahirkan gaya rambut bersilang-belit (lock) itu (bob marley:spirit of freedom,).
Rambut gimbal
mulai populer ketika musisi asala jamaika bob marley mulai dikenal dunia,
sehingga musik Reggae selalu di identikan dengan rambut gimbal. Hal itu
menyebabkan banyak penggemar musik Reggae beramai-ramai menggimbal rambut
mereka, ada yang menggunakan rambut asli dengan memanjangkan terlebih dahulu
ada juga yang menggunakan rambut tambahan.
Dalam gerakan
rastafarian penggunaan ganja memiliki makna tersendiri, mereka menganggap bahwa
ganja di ciptakan oleh tuhan bukan tanpa tujuan, melainkan untuk mendewasakan
manusia. Ganja sendiri pertama kali di temukan di cina pada tahun 2737 sm.
Mereka
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, sama halnya dengan pakaian dan
obat-obatan dan terapi penyembuhan seperti rematik, sakit perut, beri-beri
hingga malaria, Ganja juga di gunakan untuk upacara ke agamaan. Tanaman ganja
memiliki sejarah dalam penggunaan ritualnya sebagai obat untuk mendorong trance
dan tanaman ini di terlihat dalam beberapa kultus farmakologis di seluruh
dunia.(Baskara,2008:86).
Penggunakan ganja dalam ajaran
rastafarian adalah sebagai sarana meditasi, bukan
sebagai narkotika atau demi
kesenangan semata dan hal ini tidak menjadi kewajiban
dalam gerakan rastafarian, anggapan
inilah yang jarang diketahui oleh para penggemar
musik Reggae yang sebgaian merupakan
pengguna ganja, beberapa dari mereka hanya tahu bahwa
Reggae adalah rasta dan rasta harus
berganja.
Ganja memiliki beberapa nama dalam
berbagai negara namun nama lain ganja yang
cukup popular adalah mariyuana
dimana
nama ini berasal dari bahasa mexiko
dan juga
spanyol, namun juga popular di
daerah amerika.
“The term "marijuana" is a
exican-Spanish name and has become popular in
the United States. In Jamaica, the
term "ganja" is the most popular and represents
a finer quality of the
weed.”(Barret, 1997:8 )
“Nama marijuana berasal dari mexico
dan spanyol dan menjadi popular di
amerika. Di jamaika, nama ganja
lebih popular dan merupakan sebutan untuk
bibit dengan kualitas yang lebih
baik.”(Barret, 1997:83)
Pada suatu gig Reggae pasti akan
sering terlihat warna merah kuning(emas) dan
juga hijau sebagai hiasan atau dalam
poster-poster musisi Reggae. Para penggemar
Reggae kebanyakan menyebutnya
sebagai warna rasta, sebagian dari mereka hanya tahu
merah, kuning, dan hijau. Kebanyakan
dari penggemar musik Reggae tidak tahu bahwa
warna kuning adalah pengganti warna
emas.
“...Gemerlap kalau didalam
disco,tetapi dancehall(salah satu jenis music Reggae)
tak seperti itu penuh hiasan merah,
kuning, hijau...”(Ras uhamad-Run dat)
Penggalan lirik dari lagu ras
muhamad juga menunjukan bahwa warna merah,
kuning, hijau dekat dengan Reggae.
Warna merah, kuning, hijau sendiri sebenarnya
merupakan warna dari bendera
ethiopia yang merupakan negara asal Ras tafari makonen
yang merupakan kaisar ethiopia yang
juga di anggap sebagai mesias(Juru selamat) yang
turun kedua kalinya sebagai manusia.
“The red signifies the blood of
martyrs of Jamaican history...The black
represents the color of the Africans
whose descendants form 98 percent of all
Jamaicans. The green is the green of
Jamaican vegetation and of the hope of
victory over oppression.”(Barret,
1997:9 )
“Warna merah menandakan darah dari
pejuang dalam sejarah jamaika...warna
hitam melambangkan warna kulit orang
afrika yang menghuni jamaika dimana
kurang lebih 98 persen warga jamaika
adalah keturunan afrika. Warna hijau
adalah hijaunya atau suburnya
vegetasi jamaika dan juga lambang dari harapan
lepas dari penindasan”
Warna emas dalam bendera jamaika dan
juga ethiopia yang digambarkan dengan
warna kuning merupaka lambang dari
sinar matahari yang menyinari rakyat seperti
Jah(jehovah) yang selalu memberikan
sinar bagi rakyat jamaika dan ethiopia.
Warna-warna merah, kuning(emas), dan
juga hijau tidak hanya menghiasi dindingdinding dari venue suatu gig.
Warna-warna tersebut seringkali menajdi pakaian wajib
dari pengunjung gig Reggae untuk
menunjukan eksistensi mereka sebagai penggemar
Reggae sejati dan ada juga yang
menyebut diri mereka rasta. Banyak makna dari
kesemua warna yang dekat dengan
subkultur Reggae dan gerekan rastafari ini, namun
secara garis besar makna-makna dari
warna tersebut masih dalam satu garis lurus. Warna
merah menandakan darah dari pejuang
dalam sejarah jamaika...warna hitam
melambangkan warna kulit orang
afrika yang menghuni jamaika dimana kurang lebih 98
persen warga jamaika adalah
keturunan afrika. Warna hijau adalah hijaunya atau suburnya vegetasi jamaika
dan juga lambang dari harapan lepas dari penindasan. Selain
pakain bergambar bob marley dan
ganja,warna-warna itu muncul mulai dari kaos,
aksesoris, hingga kerpus. Sehingga
banyak para penggemar Reggae yang juga
memanfaatkan warna ini untuk
bertahan hidup dengan menjual hal-hal yang berbau
merah, kuning, hijau, karena sperti
di jelaskan diatas bahwa penggemar Reggae yang
berambut dreadlock seringkali
bekerja di luar sektor formal seperti berdagang, salah
satunya adalah berdagang hal-hal
dengan perpaduan warna tersebut dan juga hal yang
berbau bob marley dan juga ganja.
Penutup
Masyarakat merupakan suatu bentuk
budaya mainstream atau kebudayaan dominan
yang didalam nya juga terdapat
sub-subbudaya selain budaya dominan tersebut. Maka
dalam setiap keseharian masyarakat
selalu memiliki gaya hidup yang berbeda-beda
dalam setiap kelompok atau komunitas
dan juga subkultur. keberbedaan atas gaya hidup
bukan selalu bertujuan sebagai
bentuk gerakan penentangan atas suatu kondisi sosial,
melainkan untuk menunjukan
eksistensi dan identitas kelompok atau subkultur dalam
masyarakat yang merupakan oposisi
biner dari subkultur terkait dengan konsep budaya
dominan dan subbudaya. Bentuk
identitas subkultur dalam gaya hidup tercermin dalam
perilaku, gaya, dan juga seni, salah
satunya adalah musik. Remaja merupakan sebagian
besar pengikut suatu komunitas
ataupun subkultur terutama subkultur yang berhkaitan
dengan musik dan juga gaya.
Subkultur yang di ikuti oleh remaja adalah subkultur
Reggae. Dalam kesehariannya
subkultur Reggae memiliki gaya hidup yang cenderung
menyimpang dari masyarakat
kebanyakan. Menyimpangnya gaya hidup subkultur
Reggae bukan tanpa maksud, yaitu
untuk menunjukan eksistensi dari subkultur mereka.
Gaya hidup musisi dan penggemar
Reggae dalam subkultur Reggae tidak begitu saja
dijalani oleh mereka. Pada awalnya
Reggae adalah sebuah jenis musik yang berasal dari
daerah karibia terutama jamaika.
Musik Reggae bermula dari musik mento yang
kemudian berkembang menjadi ska dan
terus berkembang hingga saat ini menjadi
Reggae dan juga sub-sub genre dari
Reggae. Musik Reggae pada awalnya hanya musikmusik kampung yang hanya diputar
dan dimainkan di daerah-daerah kingston jamaika.
Kemunculan Bob Marley yang merupakan
agen dalam mempopulerkan Reggae
keseluruh dunia walaupun sebelum Bob
Marley banyak musisi Reggae yang juga sudah
mulai rekaman. Kepopuleran Bob
Marley sebagai musisi Reggae juga turut
mempopulernya Rastafarian yang juga
di jalani oleh ikon Reggae itu sendiri. Rastafarian
dipopulerkan oleh Bob Marley melalui
lagu-lagunya yang kebanyakan berisi tentang
gerakan Rastafarian dan
pujian-pujian untuk Jah atau mesias bagi orang kulit hitam
Jamaika. Subkultur Reggae berkembang
pesat pada kota dimana kota tersebut merupakan
kota tujuan wisata terutama tujuan
wisata bagi wisatawan asing, mengingat bahwa
wisatawan asing juga merupakan agen
yang membawa musik Reggae dan juga gaya
hidupnya walaupun peran tersebut
tidak sebesar peran dari Bob Marley. Besarnya
subkultur ini dapat dilihat dengan
semakin besar pula komunitas Reggae yang sebenarnya
itulah subkultur Reggae itu sendiri.
Kebanyakan dari anggota yang baru mengenal
subkultur Reggae, menyebut mereka
adalah rasta(Rastafarian) karena mereka sudah
menggimbal rambutnya, mencintai
Reggae dan menghisap ganja layaknya keseharian
dari bob marley sebagai panutan
mereka yang merupakan Rastafarian dan juga musisi
Reggae. Hal itu berbeda pada mereka
yang mapan pada subkultur Reggae karena mereka
akan berasaha untuk mengenal lebih
dalam lagi tentang subkultur Reggae, dan tidak lagi
melihat Reggae dari permukaannya
saja. Cara pandang Reggae dari tampilan dan
permukaan saja itulah yang
memunculkan stigma bahwa penggemar Reggae selau identik
dengan rasta dan juga dicap sebagai
pengganja